MASJID DALAM LINTASAN SEJARAH UMAT ISLAM
MASJID DALAM LINTASAN SEJARAH UMAT
ISLAM
Di kutip dari : Jurnal Khatulistiwa – Journal of Islamic Studies
: Volume 4 Nomor 2 September 2014
Masjid
Pada Mulanya
Sejarah masjid bermula sesaat setelah
Rasulullah Saw, hijrah di Madinah. Saat Rasulullah Saw tiba di Quba, pada hari
Senin tanggal 8 Rabi’ul Awwal tahun ke-14 nubuwwah atau tahun pertama hijrah,
bertepatan tanggal 23 September 662 M, beliau membangun masjid yang pertama
yang disebut masjid Quba. Lokasinya berada di sebelah tenggara Kota Madinah.
Jaraknya lima kilometer di luar Kota Madinah. Dijelaskan dalam sejarah, tokoh
Islam yang memegang peranan penting dalam pembangunan masjid ini adalah sahabat
Rasulullah yaitu ‘Ammar ra. Saat Rasulullah Saw hijrah dari Makkah ke Madinah,
pria ini mengusulkan untuk membangun tempat berteduh bagi Rasulullah di kampong
Quba yang tadinya hanya terdiri atas hamparan kebun kurma. Kemudian,
dikumpulkannya batu-batu dan disusun menjadi masjid yang sangat sederhana.
Meskipun tak seberapa besar, paling tidak bangunan ini dapat menjadi tempat
berteduh bagi rombongan Rasulullah Saw, mereka pun dapat beristirahat pada saat
siang hari dan mendirikan shalat dengan tenang.
Rasulullah
Saw, meletakkan batu pertama tepat di kiblatnya dan ikut menyusun batu-batu
selanjutnya hingga bisa menjadi pondasi dan dinding masjid. Rasullullah Saw
dibantu para sahabat dan kaum Muslim yang lain. Ammar menjadi pengikut
Rasulullah yang paling rajin dalam membangun masjid ini. Tanpa kenal lelah, ia
membawa batu-batu yang ukurannya sangat besar, hingga orang lain tak sanggup
mengangkatnya. Ammar mengikatkan batu itu ke perutnya sendiri dan membawanya
untuk dijadikan bahan bangunan penyusun masjid ini. Ammar memang selalu
dikisahkan sebagai prajurit yang sangat perkasa bagi pasukan Islam. Dia mati
syahid pada usia 92 tahun. Pada awal pembangunannya yang dibangun dengan tangan
Rasulullah sendiri masjid ini berdiri di atas kebun kurma. Luas kebun kurmanya
kala itu 5.000 meter persegi dan masjidnya baru sekitar 1.200 meter persegi.
Rasulullah Saw, sendiri pula yang membuat konsep desain dan model masjidnya.
Meskipun sangat sederhana, Masjid Quba boleh dianggap sebagai contoh bentuk
masjid-masjid selanjutnya. Bangunan yang sangat sederhana kala itu sudah
memenuhi syarat-syarat yang perlu untuk pendirian masjid. Masjid ini telah
memiliki sebuah ruang persegi empat dan berdinding disekelilingnya. Di sebelah
utara dibuat serambi untuk tempat sembahyang. Dulu, ruangan ini bertiangkan
pohon kurma, beratap datar dari pelepah, dan daun korma yang dicampur dengan
tanah liat. Di tengah-tengah ruang terbuka dalam masjid yang kemudian biasa
disebut sahn terdapat sebuah sumur tempat wudhu. Di sini, jamaah bisa mengambil
air untuk membersihkan diri. Dalam masjid ini, kebersihan selalu terjaga,
cahaya matahari dan udara pun dapat masuk dengan leluasa.
Setelah masjid Quba, bangunan masjid yang
selanjutnya dibangun oleh Rasulullah Saw adalah masjid Nabawi di Madinah.
Rasulullah Saw, membangun Masjid Nabawi pada bulan Rabiul Awal di awal-awal
hijrahnya ke Madinah. Pada saat itu panjang masjid adalah 70 hasta dan lebarnya
60 hasta atau panjangnya 35 m dan lebar 30 m. Kala itu Masjid Nabawi sangat
sederhana, kita akan sulit membayangkan keadaannya apabila melihat bangunannya
yang megah saat ini. lantai masjid adalah tanah yang berbatu, atapnya pelepah
kurma, dan terdapat tiga pintu, sementara sekarang sangat besar dan megah. Area
yang hendak dibangun Masjid Nabawi saat itu terdapat bangunan yang dimiliki
oleh Bani Najjar. Rasulullah Saw. berkata kepada Bani Najjar, “Wahai Bani
Najjar, berilah harga bangunan kalian ini?.” Orang-orang Bani Najjar menjawab,
“Tidak, demi Allah. Kami tidak akan meminta harga untuk bangunan ini kecuali
hanya kepada Allah.” Bani Najjar dengan suka rela mewakafkan bangunan dan tanah
mereka untuk pembangunan Masjid Nabawi dan mereka berharap pahala dari sisi
Allah atas amalan mereka tersebut.
Anas bin Malik yang meriwayatkan hadis ini
menuturkan, “Saat itu di area pembangunan terdapat kuburan orang-orang musyrik,
puing-puing bangunan, dan pohon kurma. Rasulullah Saw, memerintahkan untuk
memindahkan mayat di makam tersebut, meratakan puing-puing, dan menebang pohon
kurma”. Pada tahun 7 H, jumlah umat Islam semakin banyak, dan masjid menjadi
penuh, nabi pun mengambil kebijakan memperluas Masjid Nabawi. Beliau tambahkan
masing-masing 20 hasta untuk panjang dan lebar masjid. Utsman bin Affan adalah
orang yang menanggung biaya pembebasan tanah untuk perluasan masjid saat itu.
Peristiwa ini terjadi sepulangnya beliau dari Perang Khaibar. Masjid Nabawi
mempunyai banyak keutamaan, di antaranya dilipat-gandakannya pahala untuk
orang-orang yang beribadah di dalamnya. Rasulullah Saw, bersabda, “Shalat di
masjidku ini lebih utama dari 1000 kali shalat di masjid selainnya, kecuali
Masjid al-Haram” (HR. Bukhari dan Muslim).
Selain masjid Quba dan masjid Nabawi yang
dijelaskan di atas, tercatat masjid yang juga dijadikan sentra utama seluruh
aktivitas keumatan, yaitu Masjidil Haram, Masjid Kufah, Masjid Basrah dan masih
banyak lagi. Semua masjid semestinya dibangun atas dasar takwa dan bukan atas
dasar yang lainnya. Oleh sebab itu, Rasulullah Saw dalam sejarahnya pernah
meruntuhkan bangunan kaum munafik yang juga mereka namakan masjid, yaitu masjid
Dhirar. Dalam QS at-Taubah (09): 107, Allah SWT berfirman: Dan (di antara
orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk
menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran dan untuk
memecah belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang
yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. mereka sesungguhnya
bersumpah: "Kami tidak menghendaki selain kebaikan." dan Allah
menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya).
Demikianlah, masjid semestinya dibangun
atas dasar takwa. Dalam QS at-Taubah/ 09: 108-110, Allah SWT berfirman:
… Sesungguhnya masjid yang didirikan atas
dasar taqwa, sejak hari pertama adalah lebih patut kamu shalat didalamnya. di
dalamnya mesjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri dan
sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih. Maka Apakah orang-orang yang
mendirikan mesjidnya di atas dasar takwa kepada Allah dan keridhaan-(Nya) itu
yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang
runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan Dia ke dalam neraka
Jahanam. dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang- orang yang zalim.
Bangunan-bangunan yang mereka dirikan itu Senantiasa menjadi pangkal keraguan
dalam hati mereka, kecuali bila hati mereka itu telah hancur. dan Allah Maha
mengetahui lagi Maha Bijaksana.
Satu yang dapat disimpulkan dalam uraian di
atas adalah bahwa Rasulullah Saw memberikan arti penting bagi pembangunan
masjid. Bukan rumah kediaman beliau yang didahulukan dibangun, bukan juga
sebuah benteng pertahanan untuk menghadapi kemungkinan serangan dari Makkah. Bagi
nabi Muhammad Saw masjid dianggap lebih penting daripada semua itu. Ketika
Rasulullah Saw memilih membangun masjid sebagai langkah pertama dari niatnya
membangun masyarakat madani, konsep masjid pada masa itu ternyata tidak hanya
sebatas tempat shalat saja, atau tempat berkumpulnya kelompok masyarakat
(kabilah) tertentu, melainkan masjid menjadi sentra utama seluruh aktivitas
keumatan, yaitu sentra pendidikan, politik, ekonomi, sosial dan budaya. Masjid
sebagai tempat menyembah, memuliakan dan mengingat Allah, saat itu diartikan
dalam pengertian yang umum, tidak sebatas tempat berkumpul umat Islam untuk
melakukan ibadah shalat. Berdasarkan keteladanan Rasulullah, masjid menjadi
bagian utama dalam pembinaan umat Islam. Ini menunjukkan bahwa masjid dalam agama
Islam menduduki tempat sangat penting dalam rangka membina pribadi dan umat
Islam.