Menata Ulang Manajemen Keuangan Bisnis Kita

Dengan izin Allah beberapa waktu lalu saya termasuk peserta finalis lomba karya tulis ilmiah tingkat nasional. Saya kemudian diundang ke Jakarta. Setibanya di sana, saya bertemu dengan 20 finalis lain dari berbagai propinsi di Indonesia.

Tujuan utama undangan tersebut, selain mempresentasikan karya tulis yang dilombakan, sekaligus sebagai ajang penilaian juri untuk menentukan juara I, II dan III.

Singkat cerita, pada saat pelaksanaan presentasi di gedung Gramedia Majalah. Jalan Panjang No.8A Kebon Jeruk Jakarta, saya bertemu dengan seorang wartawan Kompas, Mj Kasiyanto. Beliau bekerja sebagai wartawan Kompas sejak tahun 1973. Semula saya menduga beliau akan meliput kegiatan. Namun, rupanya Mas Kasiyanto juga merupakan salah seorang finalis.

Di sela-sela rehat, saya memberanikan diri bertanya kepada beliau seputar pengalaman di dunia jurnalistik. Menurut beliau, sejak tahun 1980-an selama lebih dari 6 tahun ia ditarik oleh kelompok Kompas-Gramedia untuk menangani masalah pengembangan usaha, menjadi sekretariat tim investigasi merangkap dua jabatan direktur utama dua anak perusahaan. Sehingga menurut pendapatnya pengalaman terakhir ini memberi banyak pelajaran dana pendalaman tentang masalah manajemen perusahaan dan ketenagakerjaan.

Terkait dengan penanganan masalah pengembangan usaha, beliau memberi kenang-kenangan kepada saya berupa buku karangannya berjudul “Menabung dari Gelandangan Menjadi Agen Koran dengan Penghasilan Rp 14 Juta/Bulan”. Buku ini diterbitkan oleh Yayasan Tri Mawar (Yayasan miliknya) cet. I tahun 1995. Banyak pelajaran dan hikmah berharga yang saya peroleh dari buku ini.

Sepenuhnya saya akan menceritakan ulang sebagian dari isi buku ini –tentu– dengan seijin pengarangnya ketika bertemu. Esensi dari buku setebal 144 hal ini merupakan kumpulan ide-ide segar dari seorang “kuli plasdisk” mengenai gerakan menabung. Gagasan cemerlang itu bermula dari temuan fakta dilapangan tentang kisah sukses Haji Sarkah seorang gelandangan yang berhasil menjadi agen surat kabar dan majalah di Jakarta serta cerita sukses Ponidi seorang urban dari Wonogiri yang berhasil menjadi pengusaha bakso.

Pada bagian pertama buku itu menceritakan tentang sosok Sarkah. Sarkah tahun 50-an bersama ayah-ibunya melakukan urbanisasi dari Bogor ke Jakarta. Mereka tinggal di rumah kumuh sekitar kampung Bali sekarang. Namun ketika Sarkah duduk di bangku SD rumah orang tuanya digusur dan kedua orang tuanya kembali ke desa Cihampea, Bogor. Tetapi Sarkah terlanjur menyukai ibu kota, pada usia 15 tahun ia nekad mengadu untung ke Jakarta.

Tahun 1963 dengan modal Rp300,00 Sarkah menjual koran Berita Indonesia sebanyak 10 lembar. Ia jualan dari jam 11.00-14.00. selama tiga jam itu korannya laku terjual. Semangatnya bangkit, esok harinya modal ditambah dari seluruh keuntungannya untuk kemudian dibelikan koran dagangannya. Demikian seterusnya. Selama 6 tahun Sarkah berjibaku membesarkan usaha dengan prihatin makan seadanya dan tidur diemper toko. Hasilnya dari menjual 10 lembar koran akhirnya menjadi agen koran dengan beberapa ribu koran dagangan dengan berbagai jenis koran dan majalah sedang karyawannya 3 orang untuk melayani belasan pengecer dan loper.

Tahun 1969 ia menikah. Kemudian ia tinggal di rumah kontrakan di kawasan Grogol. Usaha yang dilakukannya kian maju. Rumah (70m2) yang semula dikontrak di Grogol akhirnya dibeli, lalu sebelahnya dibeli dan seterusnya. Tahun 1974 ia membeli rumah di Tanjung Duren seluas 210m2. Seluruh rumah, baik di Grogol maupun di Tanjung Duren selanjutnya dikontrakan. Dari hasil kontrakan ia memperoleh Rp6,5 juta/bulan. Sedang dari omset agen koran dan majalah mencapai Rp 7,5juta/bulan. Jadi total pendapatan Sarkah dari dua usaha itu sekitar Rp14juta/bulan.

Menurut Kasiyanto, sekarang ia sudah 2 kali naik haji, punya 13 hektar tanah pertanian di desanya, 3 mobil, punya kontrakan, punya opelet dan lain-lain. Kelima anaknya sudah menjadi mahasiswa, mereka mengelola usaha pak Haji Sarkah.

Kunci Sukses Haji Sarkah
Apa sebenarnya kunci sukses Haji Sarkah, seorang gelandangan yang menjadi jutawan dengan berpenghasilan Rp14 Juta/bulan? Menurut Mj Kasiyanto dari wawancara secara langsung dengan Haji Sarkah, kunci sukses itu antara lain, pertama, semangat juang dalam menabung. Sejak jualan koran Sarkah sudah terbiasa menyisihkan keuntungannya untuk membesarkan usahanya. Dengan demikian keuntungan itu tidak ia makan, melainkan ia tambahkan pada modal usaha.

Kedua, bisa mengatur pola makan atau keinginan. Sejak Sarkah terjun menjadi pengecer koran ia menyadari benar bahwa sikap mental, semangat dan keyakinan diri untuk prihatin disertai tekad besar ingin memperbaiki nasib akhirnya terkabul. Dalam waktu relatif singkat “kesengsaraan” itu dapat ia atasi.

Maka kesimpulan penting dari kisah Haji Sarkah menurut Mj Kasiyanto adalah menabung justru sangat dibutuhkan pada saat melarat dan susah! Sebab hanya dengan sikap mental “menabung” ini yang justru bisa mengangkat dan membebaskan anak gelandangan itu dari kemelaratan dan penderitaannya.

Nah, sahabat pembaca dari kisah nyata ini semoga kita mendapat hikmah dan pelajaran sehingga bisa menata ulang manajemen keuangan bisnis yang tengah kita lakukan agar tidak terlalu lama “hidup sengsara”. (Encon Rahman)

sumber foto: blog.e-mas.com

Bagikan postingan
Chat Takmir
Takmir Support
Assalamualaikum, Ada yang bisa kami bantu ?