Kondisi Kita Setelah Ramadhan
Kondisi Kita Setelah Ramadhan
حالنا بعد رمضان
(Kaukabah al-Khuthab al-Munifah min Minbar al-Ka’bah asy-Syarifah: Abdur Rahman bin Abdul ‘Aziz as-Sudais)
Oleh: Amirudin, M.Pd.
فلن يضيع جميل أينما زُرعا # ازرع جميلاً ولو في غير موضعه
فليس يحصده إلا الذي زرعـا # إن الجميل وإن طال الزمان به
فكيف لو زرع الإنسان جميلاً، وبذل معروفًا، فنفع الله بذلك البلاد والعباد، وعصم الله به الدماء والأموال والأعراض، وتآلفت القلوب، وتوحدت الكلمة، وتصالح الناس، ودفع الله به الظلم والبغي والعدوان على https://khutabaa.com/ar/article مستوى الأسرة والجارة والقرية والقبيلة والوطن؟
Tanamlah benih yang baik, meskipun bukan pada tempatnya,
benih yang baik tidak akan sia-sia di mana pun disemai.
Sesungguhnya benih yang baik meski lama masanya,
pastilah akan dipanen oleh orang yang menanamnya.
Ramadan bulan mulia telah berlalu, secepat bayangan khayali, seolah kita baru saja tersadar dari mimpi bahwa ia baru saja meninggalkan kita. Ia berlalu dengan segala kebaikan dan keberkahannya. Ramadan menjadi saksi bagi kebaikan amal kita شاهد لنا di dalamnya atau bahkan, menjadi saksi atas keburukan amal kita شاهد علينا selama Ramadan, naudzu billah. Kelak suatu hari nanti kita akan membuka lembaran amal tersebut saat hisab, apa yang telah kita goreskan melalui tinta amal catatan Ramadan, dan apa pula pengaruhnya setelah Ramadan berlalu, adakah ia berpengaruh mengubah akhlak dan suluk atau perilaku kita.
Para ulama salaf (terdahulu) menangisi perpisahan mereka dengan Ramadan. Mereka khawatir ibadah Ramadan mereka tidak diterima. Oleh karenanya, mereka memperbanyak mendoakan sesama mereka, Taqabbalallah minna wa minkum, agar ibadah Ramadan tersebut ditampi, diterima Allah SWT. Aisyah pernah ditanya tentang ayat berikut, apakah ayat ini menjelaskan perilaku pezina, peminum minuman keras, dan para pencuri yang kemudian mereka bertaubat.
وَالَّذِيْنَ يُؤْتُوْنَ مَآ اٰتَوْا وَّقُلُوْبُهُمْ وَجِلَةٌ اَنَّهُمْ اِلٰى رَبِّهِمْ رٰجِعُوْنَ ۙ
60. dan orang-orang yang melakukan (kebaikan) yang telah mereka kerjakan dengan hati penuh rasa takut (karena mereka tahu) bahwa sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhannya. (QS. Al-Mu’minun: 60).
Aisyah merespons pertanyaan itu dengan menjelaskan bahwa ayat tersebut justru menjelaskan perilaku mereka yang selalu beribadah shalat, puasa, dan bersedekah, namun hati mereka khawatir ibadah-ibadah tersebut tidak diterima Allah SWT, karena Allah hanya menerima ibadah “semata” dari orang yang bertakwa (Perhatikan penggunaan kata إنما dalam bahasa Arab, yaitu sebagai adat al-hashr, yang berfungsi untuk membatasi, “hanya”).
اِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللّٰهُ مِنَ الْمُتَّقِيْنَ
27. …. Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-Maidah: 27).
Mari kita lihat amalan kita setelah Ramadan ini, apakah lebih baik atau buruk dari sebelum Ramadan. Jika kita responsif terhadap kebaikan, semangat pada ketaatan, rajin menghadiri majlis-majlis ilmu, istiqamah dalam kesalehan, menjauhi kemaksiatan, maka ini merupakan ciri diterimanya amalan Ramadan kita, in sya Allah. Namun jika keadaan kita masih sama seperti sebelum Ramadan, kembali kepada kemaksiatan, manjauhi ketaatan, melanggar apa yang diharamkan, menyia-nyiakan shalat, dan mengikuti hawa nafsu, serta tidak menjaga lisan, penglihatan, dan pendengaran dari yang diharamkan Allah, maka ini hal ini membuat kita semakin jauh dari rahmat Allah SWT dan secara otomatis jauh dari diterimanya amalan Ramadan kita. Inilah yang disinggung dalam ayat Al-Qur’an dengan perumpamaan orang yang mengurai kembali rajutan tenunan benang (amal shaleh) setelah kuat dipintal sebagai berikut:
وَلَا تَكُوْنُوْا كَالَّتِيْ نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْۢ بَعْدِ قُوَّةٍ اَنْكَاثًاۗ
92. Janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan tenunannya yang sudah dipintal dengan kuat menjadi cerai-berai kembali…. (QS. An-Nahl: 92).
Ulama salaf (terdahulu) menyebut mereka yang hanya beribadah di bulan Ramadan, dan setelah bulan Ramadan berlalu mereka meninggalkan ibadah kepada Allah, sebagai berikut:
بئس القوم لا يعرفون الله إلا في رمضان
“Seburuk-buruknya kaum adalah mereka yang tidak mengenal Allah kecuali hanya di bulan Ramadan.”
Puasa dan Ketakwaan
Dalam Al-Qur’an surah Al-A’raf, ayat 26, disebutkan,
وَلِبَاسُ التَّقْوٰى ذٰلِكَ خَيْرٌۗ
26. … dan pakaian takwa itulah yang paling baik. (QS. An-A’raf: 26).
Taqwa pada ayat ini dilambangkan dengan pakaian yang harus dipakai oleh pemiliknya di mana saja. Jadi orang yang baru berpuasa hendaknya mengenakan ketakwaan itu di mana saja, sebagaimana ia memakai baju di mana saja. Pakaian pula menjaga dan memelihara kita dari terik panas dan dinginnya udara, sebagaimana takwa juga secara bahasa yang memilki arti “memelihara atau menjaga”, seperti pada kata “Pelihara atau jagalah diri dan keluargamu dari api neraka” pada surah At-Tahrim ayat 6 berikut:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ
6. Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu .… (QS. At-Tahrim: 6).
Contoh Konkret Hasil Puasa
Beberapa ulama memberikan contoh konkret takwa sebagai buah atau goal dari puasa sebagai berikut:
1. Al Imam Abu Hanifah tidak pernah berani berteduh di bawah pohon milik orang yang memiliki hutang kepada beliau, karena takut kepada hadits Nabi shallallaahu alihi wasallam "Setiap hutang piutang yang menghasilkan kemanfaatan, maka itu adalah riba". Itulah takwa. (Al-Qusyairi, ar-Risalah al-Qusyairiyyah, juz 1, hal. 52).
ويحكى أن أبا حنيفة كان لا يجلس في ظل شجرة غريمة. ويقول: قد جاء في الخبر: " كلُّ قرض جر نفعاً فهو رباً ". (الرسالة القشيرية: عبد الكريم بن هوازن بن عبد الملك القشيري، ج. 1، ص. 52)
2. Ibn Sirin membeli empat puluh bejana minyak. Murid beliau melihat seekor tikus tenggelam di dalam bejana, lalu dia keluarkan. Beliau bertanya,
"Bejana mana yang kamu temukan ada tikusnya?"
Ternyata murid itu sendiri lupa. Lalu beliau menumpahkan empat puluh bejana yang beliau beli, karena khawatir salah satu yang najis terpakai. Itulah takwa. (Al-Qusyairi, ar-Risalah al-Qusyairiyyah, juz 1, hal. 51).
والمتقي مثل ابن سيرين؛ اشترى اربعين حباً سمنا، فأخرج غلامه فأرة من حب فسأله: من أي حب أخرجتها؟ فقال لا أدري! فصبها كلها على الأرض. (الرسالة القشيرية: عبد الكريم بن هوازن بن عبد الملك القشيري، ج. 1، ص. 51)
3. Ketika berada di Baitul Maqdis, Ibrahim bin Adham RA mendengar dua malaikat berbincang,
"Siapa dia?" Tanya salah satu malaikat kepada sesamanya.
"Oh dia adalah orang yang derajatnya diturunkan oleh Allah," jawab temannya.
"Sebab apa?" Timpalnya.
"Sebab ia membeli kurma di Basrah, lalu ada satu biji kurma milik penjual yang terjatuh tercampur bersama kurma yang ia beli namun dia belum kembalikan".
Seketika itu beliau berjalan kembali dari Baitul Maqdis menuju ke Basrah (1.500 KM) hanya untuk membeli kurma dari si penjual yang lalu dan menjatuhkan satu butir untuk dikembalikan kepada penjualnya. Sesampainya di Bait Maqdis ia kembali mendengar percakapan dua malaikat yang membicarakan bahwa dirinya telah diangkat kembali derajatnya oleh Allah. Itulah takwa. (Al-Qusyairi, ar-Risalah al-Qusyairiyyah, juz 1, hal. 52).
وقال إبراهيم بن أدهم: بت ليلة تحت الصخرة ببيت المقدس؛ فلما كان بعض الليل نزل ملكان، فقال أحدهما لصاحبه: من هاهنا؟ فقال الآخر: إبراهيم بن أدهم.
فقال: ذاك الذي حط بالله سبحانه درجة من درجاته.
فقال: لم؟ قال: لأنه اشترى بالبصرة تمراً، فوقعت تمرة على تمرة من تمر البقال، فلم يردها على صاحبها.
قال إبراهيم: فمضيت إلى البصرة، واشتريت التمر من ذلك الرجل، وأوقعت تمرة على تمرة، ورجعت إلى بيت المقدس، وبت في الصخرة.
فلما كان بعض الليل، إذ أنا بملكين نزلا من السماء.
فقال أحدهما لصاحبه: من هاهنا؟ فقال الآخر: إبراهيم بن أدهم: فقال: ذلك الذي رد الله مكانه، ورُفعت درجته. (الرسالة القشيرية: عبد الكريم بن هوازن بن عبد الملك القشيري، ج. 1، ص. 52)
Ramadan Bulan Training
Bulan Ramadan menjadi bulan training, dengan tarbiyah atau pendidikan menahan makan, minum, dan hubungan suami istri, serta keinginan buruk lainnya yang dapat membatalkan (pahala) puasa. Maka bulan-bulan yang bukan Ramadan menjadi tempat penerapan dari latihan-latihan yang diperoleh pada bulan Ramadan tersebut. Apabila selama Ramadan seorang muslim terbiasa menjalankan qiyamul lail, maka kebiasaan tersebut semestinya berlanjut pada bulan-bulan selain Ramadan. Apabila seorang muslim telah terbiasa tidak berdusta selama Ramadan, maka kebiasaan itu diharapkan berlanjut pada bulan-bulan selain Ramadan. Demikian juga saat Ramadan kita terbiasa meninggalkan kemaksiatan dan bisa menahan hawa nafsu, bahkan terhadap yang dihalalkan-Nya, maka seyogyanya hal ini dapat dilanjutkan pada bulan setelah Ramadan.
Dengan demikian, selesai Ramadan kita harus merasa prihatin, karena akan menghadapi pertandingan yang sesungguhnya, bukan lagi sekadar training, atau latihan, yang in sya Allah di latihan tersebut kita sudah menang. Namun kita tidak sepatutnya bangga berlebihan, karena kemenangan kemarin selesai Ramadan yang ditandai dengan Hari Kemenangan, Idul Fitri, baru pada tahap latihan atau training, bukan pertandingan yang sebenarnya. Kita akan menghadapi pertandingan yang sesungguhnya di bulan-bulan ini, sebelas bulan setelah Ramadan. So, hari ini kita masih bertanding, masih berpuasa. Mulut, mata, telinga kita masih berpuasa (baca: imsak, menahan diri) dari hal-hal yang diharamkan, seperti ghibah, namimah, hasad, dan yang lainnya. Demikian juga tangan kita masih berpuasa dari mengambil yang bukan haknya, serta kaki kita tahan untuk melangkahkannya kepada jalan kemaksiatan. Demikian juga seluruh anggota tubuh kita yang lain, terutama hati sebagai sumber segala amalan kita, baik dan buruknya. Imam Ghazali menyebut hati sebagai danau, dan anggota tubuh lainnya merupakan anak sungai aliran danau tersebut. Jika air danau sebagai sumber mata air itu jernih dan bersih, maka aliran air yang mengairi anak sungaipun bersih dan jernih. Wallahu al-Musta’an.