ORIENTASI SEKOLAH NEGRI AGAR RINGAN BIAYAI

Dear para aktivis penggiat dakwah.

( terkhusus divisi bidang terkait yang kompeten )

———————————————

Pendidikan merupakan salah satu metode strategi awal seruan menanamkan pemahaman. Islam hadir dengan ikhtiarkan pemahaman. Islam Bukan sekedar keyakinan dengan aliran paham karya doktrin hasutan iming2 kesenangan agar pengikutnya sekedar mau ikutan kemudian puncaknya bisa berproses jadi militan.

Masa anak2 adalah masa emas, dimana pola pikir kepribadian dan prinsip pada masa ini mulai akan terbentuk. Hasilnya akan dipengaruhi oleh faktor utama pola didik maupun pola asuh ditengah masa tumbuh kembang fisik maupun mental kepribadian mereka.

Saat ini Fasilitas/layanan pendidikan selain sekolah sekolah swasta berbasis agama bisa lebih murah, bahkan hingga bisa memfasilitasinya dgn gratis?

Mampu menanamkan pendidikan agama sejak dini, adalah harapan besar bagi para orang tua, tentunya.

Berharap bisa mendampingi n memfasilitasi untuk terus ikhtiar mencetak generasi sholeh/sholehah. 

Yang miliki kecerdasan intelektual maupun spiritual.

Cerdas dengan keshalehan individual maupun sosial.

Berharap besar bisa hadirkan generasi seperti para salaf/ulama/umaro’ shaleh atau para tokoh2 sholeh terdahulu, yang tangguh mumpuni dgn dasar ilmu agama yang dikuasainya, 

Inilah impian terbesar dari suara hati kami.Miliki generasi yang bisa bermanfaat ditengah masyarakat dan selamat dunia akherat.

Lahirkan generasi2…, yang bisa hadir dengan pemikiran2 / karya2 nyata bermanfaat untuk kemajuan, kebangkitan kwalitas peradaban keberlanjutan umat.

Ironisnya, Kenapa…

yang terjadi saat ini, system pendidikan berbasis agama, cenderung dihindari oleh sebagian besar rakyat dilevel menengah kebawah. 

Tentunya masih memaklumi dan wajar, jika bagi golongan kalangan atas penganut paham sekuler, liberal, sosialis, atheis masih sengaja menghindari sekolah2 berbasis agama.

Fenomenanya..

Biaya yang mahal seolah menjadi momok yang terpaksa harus dihindari. Oleh golongan menengah kebawah.

terbentur kondisi finansial yang belum mumpuni ditambah minimnya pemahaman akan pentingnya pembekalan agama sejak dini. Membuat pendidikan berbasis agama tidak diprioritaskan sebagai pilihan utama.

Faktanya.

Sebagian besar anak umumnya akan dimotivasi, optimal difasilitasi, agar sukses berprestasi dengan hasil nilai akademis yang baik, untuk tujuan bisa lanjut masuk sekolah2 negri dengan pertimbangan kemudahan dalam membiayai.

Sekolah swasta cenderung dihindari karena pertimbangan alasan ekonomi. Sekolah swasta hanya sebagai alternatif akhir saat kompetisi masuk negri tidak mampu terpenuhi.

System pendidikan di negara ini, moral dan adab kadang terabai, dinomor akhirkan, dengan system kurikulum merdekanya yang bebas mengeksplore, dari berbagai macam sumber, hingga kadang banyak generasi yang lengah lepas kendali, dan luntur sikap empati di tengah lingkungan terdekatnya.

Sebagian besar produknya menjadi generasi korban dan obyek sasaran keberadaan trend dan teknologi.

Sumber2 literasi sebagai bahan referensi seringkali hanya dipakai sebagai modal amunisi, rujukan sumber dalil untuk “minteri n ngeyeli” oleh para generasi. 


Ijazah seolah sekedar  dokumen syarat administratif yang wajib dimiliki untuk bukti tunjukkan eksistensi capaian level prestasi, dengan prosentase kwalitas yang belum banyak terbukti.

Pendidikan seperti formalitas sebagai syarat baku jadi wajar ditengah mayoritas.

Bicara kwalitas… 

Jika sama2 gratis atau sama2 berbayar, sebagai orang tua tentunya akan lebih inginkan putra/i nya berada didalam asuhan system pendidikan yang amanah berbasis nilai2 Islam sesuai risalah rosulullah Salallahu ‘alaihi wassalam.

Di sekolah negri, kurikulum agama tidak miliki porsi besar seperti di sekolah2 berbasis Islam. 

Dunia ini pilihan…, 

tetapi kenapa sekolah swasta berbasis agama belum mampu membudaya jadi trend pilihan utama, untuk pendidikan generasi di negri ini.

Pertanyaannya…

Adakah strategi solusi untuk mensikapi hal semacam ini, agar pendidikan berbasis agama, bisa menjadi pilihan utama untuk semua lapis golongan masyarakat?

Bahkan salah satu contoh, sekelas organisasi dakwah Muhammadiyah salah satu organisasi Islam terkaya, tapi layanan pendidikan belum bisa difasilitaskan gratis, seperti sekolah2 negri milik pemerintah saat ini.

Akhlaq Aqidah generasi adalah kunci kebangkitan kwalitas peradaban Islam dinegri ini.

Keresahan ini hanyalah sudut pandang al faqir yang awam.

Menilai fenomena dengan kacamata awam pada umumnya.

Keberlanjutan kwalitas generasi adalah amanah bagi para pemangku yang kompeten dan miliki kapasitas.

Besar harapan kwalitas pendidikan akan bisa segera terus dimaksimalkan. 

Terus Menjangkau ke segala penjuru, setiap lapis elemen masyarakat.

Jika sependapat dengan fenomena keresahan ini, silahkan share postingan ini.

Supaya didengar dan disikapi para pemangku amanah dibidang terkait dengan lebih optimal lagi dalam mengikhtiarkan kebaikan bagi  keberlanjutan kwalitas peradaban generasi kita.


Wallahu a’lam bishowab

Barokallahu fiikum

Jatimulyo, 06.06.24

Alfaqir

Bagikan postingan
Chat Takmir
Takmir Support
Assalamualaikum, Ada yang bisa kami bantu ?